Angin memeluk meremuk tulang
Tubuh lunglai terbalut kering
Tiada butiran kristal menghiasi geligi
Cairan berpendar terlebih lagi
Sang waktu akhirnya menyerah
Mencoba mempermainkanku yang berserah
Logika tertunduk bertanya-tanya
Bertualang mencari jawabnya
Ombak bergulung terbahak-bahak
Awan mendung malu bertampak
Mentari senja memberikan jawaban
Atas kebingungan Sang Pembingung
Tentu saja jawabnya pasti
Ibarat pangeran bertemu Sang Puteri,
Tujuh kurcaci bertemu muka,
Dan Heracles tidur di pangkuan Hera
Pertemuan demi pertemuan terhampar
Semoga bukan menjadi akhir
Hingga pelajaran yang terpetik
Mengantar masa depan lebih baik
(Sebuah coretan pelarian dari rasa bosan yang menyerang dalam perjalanan panjang pulang ke rumah)
Baca Selengkapnya..
KATA BIJAK HARI INI
|
The manners of women are the surest criterion by which to determine whether a republican government is practicable in a nation or not.
John Quincy Adams (1767-1848) |
Quote of the Day
provided by The Free Library
21 August 2009
09 April 2009
SEMANGAT PROFESIONALISME SEBAGAI SPIRIT BARU DALAM MEMBANGUN BANGSA
Siang itu matahari begitu teriknya, membuat keringat membasahi dahiku. Saat itu aku dan seorang kawan sedang berdiri menatap papan kantor lurah yang tulisannya pun sudah tidak jelas lagi. Terdengar bunyi mesin ketik yang seperti berkejar-kejaran menandakan kesibukan di dalam sana. Kedatanganku hari itu adalah untuk menemui pak lurah, membicarakan kegiatan bakti sosial yang aku dan kawan-kawanku rencanakan di daerah sana. Daerah tersebut memang merupakan daerah binaan organisasiku, yang merupakan organisasi mahasiswa di bidang kesehatan. Daerah tersebut kami pilih karena selain kumuh, akses pelayanan kesehatannya juga masih kurang.
Saat masuk ruang penerimaan tamu, kuperhatikan kondisinya yang berantakan, penuh dengan kotak yang akan digunakan untuk pemilu nantinya. Melihat sekeliling, aku menemukan salah seorang pegawai yang kukenali. Saat aku menanyakan apakah pak lurah ada atau tidak, seorang wanita tiba-tiba menjawab bahwa beliau tidak ada. Ia lalu menanyakan maksud kedatanganku. Saat kuperhatikan, ternyata sumber suara tersebut adalah ibu lurah yang sudah pernah kulihat sebelumnya. Begitu kujelaskan maksud kedatanganku, ia lalu menyuruhku datang lain waktu saja. Ia menjelaskan bahwa saat ini semua sedang sibuk untuk mengurus Pemilu Legislatif yang sebentar lagi akan dilaksanakan, lagipula kegiatan yang akan kulaksanakan nantinya tidak menghasilkan uang. Jujur saja pernyataannya tersebut membuatku menjadi kurang nyaman, padahal kami datang untuk menawarkan bantuan tanpa pamrih sedikit pun.
Aku menjadi teringat saat minggu lalu mengadakan pendataan di daerah sana. Saat itu, aku menyempatkan diri untuk bergabung dengan beberapa orang yang sedang duduk berbincang-bincang. Pembicaraan kami diwarnai dengan masalah pemilu yang nantinya akan dilaksanakan. Mulai dari tentang caleg-caleg yang ada, sampai masalah pemilihan presiden nantinya. Mereka pun menceritakan bagaimana mereka berpartisipasi saat masa kampanye, dimana sangat tergantung dengan seberapa besar uang bensin yang mereka terima. Beginilah potret masyarakat Indonesia pada umumnya. Namun apakah ini salah mereka?
Sebuah negara selain terdiri dari penduduk, juga memiliki sistem yang mengatur kehidupan warganya. Tubuh manusia pun seperti itu, dimana tersusun dari sel-sel dan sistem yang mengaturnya. Saat sel-sel yang ada tersebut tidak berada dalam kondisi seharusnya, maka tubuh ini pun akan sakit. Misalnya pada penderita diabetes dimana terjadi gangguan sel sehingga tidak dapat menyerap gula yang terdapat di dalam darah, sehingga kadar gula dalam darah meningkat. Seringkali kita akan menyalahkan kondisi sel-sel tersebut tanpa melihat bahwa kondisi ini diperparah oleh pola hidup si penderita. Gaya hidup yang tidak sehat, menjadikan tubuh penderita semakin sakit.
Belajar dari tubuh kita sendiri, ternyata pola hidup yang ada sangat berperan dalam kesehatan tubuh. Begitupula dengan bangsa kita tercinta ini. Masyarakat yang berlaku tidak sesuai dengan gambaran ideal, tidak haruslah lansung disalahkan. Sangat perlu dilihat bagaimana dengan sistem yang berlaku. Misalnya saja sistem demokrasi yang berlaku di negara kita, apakah memang sudah mencerdaskan masyarakat. Demokrasi hanya dipahami sebatas partisipasi dalam pemilu, bukan bagaimana perjuangan atas kedaulatan rakyat. Tidak ada pendidikan politik yang berjalan, sehingga yang ada hanyalah pemahaman masyarakat yang bersifat superficial. Proses pemilu yang ada bukan lagi menjadi alat penegakan demokrasi, tetapi telah menjadi sebuah tujuan yang oleh banyak orang malah dijadikan sebagai alat pemenuhan obsesi pribadi.
Kondisi bangsa yang carut marut ini memerlukan solusi yang bisa membawa kearah yang lebih baik. Perlu ada spirit baru yang mengawal pembangunan nasional yang ingin dicapai. Politik tidaklah bisa menjadi satu-satunya jalan menuju ke Indonesia yang lebih baik. Selama guru, petani, nelayan, dokter, dan yang lainnya lebih asyik membicarakan masalah politik dibandingkan meningkatkan produktivitas mereka, maka negara kita ini akan terus terpuruk. Semangat profesinalisme harus menjadi spirit baru pembangunan bangsa ini. Negara-negara maju telah mempraktekkan ini dari jauh hari. Etos kerja yang katanya menjadi ciri masyarakat Indonesia, ternyata tidak sesuai dengan realitas yang ada. Namun, hal ini tidak boleh dipahami dengan sempit bahwa orang-orang di luar politikus harus menjadi apati dengan masalah politik karena akan tetap dibutuhkan orang-orang yang ahli di tiap bidang dalam menggagas kebijakan seputar bidangnya tersebut. Kupikir, sekaranglah waktunya kita hapus air mata ibu pertiwi yang sebentar lagi kering karena telah lama menangis…
Baca Selengkapnya..
Saat masuk ruang penerimaan tamu, kuperhatikan kondisinya yang berantakan, penuh dengan kotak yang akan digunakan untuk pemilu nantinya. Melihat sekeliling, aku menemukan salah seorang pegawai yang kukenali. Saat aku menanyakan apakah pak lurah ada atau tidak, seorang wanita tiba-tiba menjawab bahwa beliau tidak ada. Ia lalu menanyakan maksud kedatanganku. Saat kuperhatikan, ternyata sumber suara tersebut adalah ibu lurah yang sudah pernah kulihat sebelumnya. Begitu kujelaskan maksud kedatanganku, ia lalu menyuruhku datang lain waktu saja. Ia menjelaskan bahwa saat ini semua sedang sibuk untuk mengurus Pemilu Legislatif yang sebentar lagi akan dilaksanakan, lagipula kegiatan yang akan kulaksanakan nantinya tidak menghasilkan uang. Jujur saja pernyataannya tersebut membuatku menjadi kurang nyaman, padahal kami datang untuk menawarkan bantuan tanpa pamrih sedikit pun.
Aku menjadi teringat saat minggu lalu mengadakan pendataan di daerah sana. Saat itu, aku menyempatkan diri untuk bergabung dengan beberapa orang yang sedang duduk berbincang-bincang. Pembicaraan kami diwarnai dengan masalah pemilu yang nantinya akan dilaksanakan. Mulai dari tentang caleg-caleg yang ada, sampai masalah pemilihan presiden nantinya. Mereka pun menceritakan bagaimana mereka berpartisipasi saat masa kampanye, dimana sangat tergantung dengan seberapa besar uang bensin yang mereka terima. Beginilah potret masyarakat Indonesia pada umumnya. Namun apakah ini salah mereka?
Sebuah negara selain terdiri dari penduduk, juga memiliki sistem yang mengatur kehidupan warganya. Tubuh manusia pun seperti itu, dimana tersusun dari sel-sel dan sistem yang mengaturnya. Saat sel-sel yang ada tersebut tidak berada dalam kondisi seharusnya, maka tubuh ini pun akan sakit. Misalnya pada penderita diabetes dimana terjadi gangguan sel sehingga tidak dapat menyerap gula yang terdapat di dalam darah, sehingga kadar gula dalam darah meningkat. Seringkali kita akan menyalahkan kondisi sel-sel tersebut tanpa melihat bahwa kondisi ini diperparah oleh pola hidup si penderita. Gaya hidup yang tidak sehat, menjadikan tubuh penderita semakin sakit.
Belajar dari tubuh kita sendiri, ternyata pola hidup yang ada sangat berperan dalam kesehatan tubuh. Begitupula dengan bangsa kita tercinta ini. Masyarakat yang berlaku tidak sesuai dengan gambaran ideal, tidak haruslah lansung disalahkan. Sangat perlu dilihat bagaimana dengan sistem yang berlaku. Misalnya saja sistem demokrasi yang berlaku di negara kita, apakah memang sudah mencerdaskan masyarakat. Demokrasi hanya dipahami sebatas partisipasi dalam pemilu, bukan bagaimana perjuangan atas kedaulatan rakyat. Tidak ada pendidikan politik yang berjalan, sehingga yang ada hanyalah pemahaman masyarakat yang bersifat superficial. Proses pemilu yang ada bukan lagi menjadi alat penegakan demokrasi, tetapi telah menjadi sebuah tujuan yang oleh banyak orang malah dijadikan sebagai alat pemenuhan obsesi pribadi.
Kondisi bangsa yang carut marut ini memerlukan solusi yang bisa membawa kearah yang lebih baik. Perlu ada spirit baru yang mengawal pembangunan nasional yang ingin dicapai. Politik tidaklah bisa menjadi satu-satunya jalan menuju ke Indonesia yang lebih baik. Selama guru, petani, nelayan, dokter, dan yang lainnya lebih asyik membicarakan masalah politik dibandingkan meningkatkan produktivitas mereka, maka negara kita ini akan terus terpuruk. Semangat profesinalisme harus menjadi spirit baru pembangunan bangsa ini. Negara-negara maju telah mempraktekkan ini dari jauh hari. Etos kerja yang katanya menjadi ciri masyarakat Indonesia, ternyata tidak sesuai dengan realitas yang ada. Namun, hal ini tidak boleh dipahami dengan sempit bahwa orang-orang di luar politikus harus menjadi apati dengan masalah politik karena akan tetap dibutuhkan orang-orang yang ahli di tiap bidang dalam menggagas kebijakan seputar bidangnya tersebut. Kupikir, sekaranglah waktunya kita hapus air mata ibu pertiwi yang sebentar lagi kering karena telah lama menangis…
Baca Selengkapnya..
03 April 2009
INSPIRASIKU…
Berbicara tentang inspirasi, maka kita berbicara tentang sesuatu yang darinya dapat kita petik pelajaran untuk melakukan sesuatu dalam hidup ini. Setiap orang tentulah pernah mendapatkan inspirasi selama dia hidup entah dari mana. Ada yang terinspirasi dari orang lain, dari suatu kejadian, ataupun bahkan dari pengalamannya sendiri.
Namun kalau ditanya tentang sosok paling inspiratif, jawabannya jelas, seorang pemuda dari Arab yang hidup ratusan tahun lalu, Muhammad SAW. Kehadirannya disambut dengan penuh suka cita. Bunga-bunga merekah, bebatuan luluh, dan hewan menari kegirangan, sedang Tuhan dan malaikat mengucap salam atas kehadiran insan mulia tersebut.
Untuk sekarang ini, masihkah kita akan menemukan prilaku terpuji seperti yang beliau tunjukkan? Saya pribadi menjawab iya, walaupun tentunya tidak sesempurna yang beliau pernah lakukan. Di sekeliling kita masih banyak orang yang selalu berbuat kebajikan walaupun sifatnya mungkin tidak konsisten, kadang-kadang baik, kadang-kadang tidak.
Minggu lalu, saat sedang melewati sebuah jalan, saya memperhatikan tingkah laku seorang wanita berjilbab yang mengendarai motor dan tiba-tiba berhenti. Ia lalu menuju ke tengah jalan dan mengambil seekor anak kucing yang ternyata dari tadi ada di sana. Dia mencoba untuk menyelamatkan kucing yang mungkin saja akan tertabrak jika dia tidak mengambilnya. Melihat kejadian tersebut, saya teringat kejadian waktu saya masih kecil dulu. Saat itu, saya baru saja pulang dari mengaji di masjid yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah. Di tengah jalan, saya melihat seekor anak ayam yg terjebak di selokan. Tanpa banyak berpikir, saya turun ke selokan tersebut untuk mengambil anak ayam tersebut. Alasannya simpel, saya tidak mau anak ayam itu mati. Sebuah tindakan dengan niat tulus yang mungkin saja sekarang belum tentu saya lakukan.
Kita perlu belajar dari anak-anak mengenai ketulusan. Mereka tidak perlu banyak alasan untuk menolong. Tidak pernah memikirkan apa yang akan dia dapatkan jika menolong orang lain. Sebuah ketulusan yang datang dari kepolosan. Banyak contoh yang kita bisa dapatkan, termasuk untuk masalah perasaan. Kadangkala kita menertawakan anak-anak yang menyukai temannya padahal mereka belum mengerti apa-apa. Lebih kita kenal dengan sebutan “cinta monyet”. Namun apakah itu salah? Malah cinta sejatinya memang seperti itu, sebuah perasaan tulus kepada orang lain tanpa memikirkan apakah dia memiliki perasaan yang sama atau tidak. Rasa suka yang muncul tanpa melihat latar belakangnya, apa pekerjaannya, cantik tampannya dia, dan banyak alasan lain yang kadangkala menjadi syarat orang dewasa menyukai orang lain. Ternyata anak-anak kadangkala lebih dewasa dari orang-orang yang menyebut diri mereka dewasa.
Beberapa hari yang lalu saat datang ke rumah sakit jiwa RS Dadi untuk urusan koass, perhatianku dicuri oleh sebuah kejadian mengharukan. Saat itu pagi hari dan matahari bersinar begitu teriknya. Seorang ibu dengan berjalan kaki datang membawa kantongan yang berisi makanan dan minuman. Ternyata ia datang menjenguk anaknya yang dirawat di rumah sakit tersebut. Anaknya yang daritadi berkeliaran tanpa tujuan lalu menuju ke ibunya begitu ia dipanggil. Ibunya lalu mengajaknya bersembunyi di belakang sebuah mobil yang diparkir agar tidak dilihat oleh pasien lain begitu ia memberikan makanan kepada anaknya. Seperti itulah di rumah sakit jiwa, pasien-pasien akan berkerumun jika melihat ada makanan yang dibagi. Saat anaknya makan, ibu tersebut tersenyum bahagia melihat anaknya yang makan dengan lahap, padahal keringat membasahi wajahnya yang terlihat kecapaian akibat berjalan di bawah terik matahari. Melihat pandangannya, tampak tatapan seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya walaupun anaknya tersebut tidak seperti orang kebanyakan. Mataku pastilah berkaca-kaca melihat pemandangan yang mengharukan tersebut. Dari kejadian ini, saya belajar bagaimana tentang kecintaan orang tua kepada anaknya. Mereka tidak peduli meski harus berkorban demi kebahagiaan anak mereka.
Sekeliling kita tentunya masih ada orang-orang dengan kebaikan yang bisa menjadi inspirasi kita. Hanya saja bagaimana kita membuka mata hati kita untuk melihat dengan jelas setiap makna dari apa yang terjadi. Mengenai siapa yang menginspirasi dibuatnya tulisan ini, tidaklah perlu kusebutkan namanya di sini.. Terima kasih! =)
Baca Selengkapnya..
Namun kalau ditanya tentang sosok paling inspiratif, jawabannya jelas, seorang pemuda dari Arab yang hidup ratusan tahun lalu, Muhammad SAW. Kehadirannya disambut dengan penuh suka cita. Bunga-bunga merekah, bebatuan luluh, dan hewan menari kegirangan, sedang Tuhan dan malaikat mengucap salam atas kehadiran insan mulia tersebut.
Untuk sekarang ini, masihkah kita akan menemukan prilaku terpuji seperti yang beliau tunjukkan? Saya pribadi menjawab iya, walaupun tentunya tidak sesempurna yang beliau pernah lakukan. Di sekeliling kita masih banyak orang yang selalu berbuat kebajikan walaupun sifatnya mungkin tidak konsisten, kadang-kadang baik, kadang-kadang tidak.
Minggu lalu, saat sedang melewati sebuah jalan, saya memperhatikan tingkah laku seorang wanita berjilbab yang mengendarai motor dan tiba-tiba berhenti. Ia lalu menuju ke tengah jalan dan mengambil seekor anak kucing yang ternyata dari tadi ada di sana. Dia mencoba untuk menyelamatkan kucing yang mungkin saja akan tertabrak jika dia tidak mengambilnya. Melihat kejadian tersebut, saya teringat kejadian waktu saya masih kecil dulu. Saat itu, saya baru saja pulang dari mengaji di masjid yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah. Di tengah jalan, saya melihat seekor anak ayam yg terjebak di selokan. Tanpa banyak berpikir, saya turun ke selokan tersebut untuk mengambil anak ayam tersebut. Alasannya simpel, saya tidak mau anak ayam itu mati. Sebuah tindakan dengan niat tulus yang mungkin saja sekarang belum tentu saya lakukan.
Kita perlu belajar dari anak-anak mengenai ketulusan. Mereka tidak perlu banyak alasan untuk menolong. Tidak pernah memikirkan apa yang akan dia dapatkan jika menolong orang lain. Sebuah ketulusan yang datang dari kepolosan. Banyak contoh yang kita bisa dapatkan, termasuk untuk masalah perasaan. Kadangkala kita menertawakan anak-anak yang menyukai temannya padahal mereka belum mengerti apa-apa. Lebih kita kenal dengan sebutan “cinta monyet”. Namun apakah itu salah? Malah cinta sejatinya memang seperti itu, sebuah perasaan tulus kepada orang lain tanpa memikirkan apakah dia memiliki perasaan yang sama atau tidak. Rasa suka yang muncul tanpa melihat latar belakangnya, apa pekerjaannya, cantik tampannya dia, dan banyak alasan lain yang kadangkala menjadi syarat orang dewasa menyukai orang lain. Ternyata anak-anak kadangkala lebih dewasa dari orang-orang yang menyebut diri mereka dewasa.
Beberapa hari yang lalu saat datang ke rumah sakit jiwa RS Dadi untuk urusan koass, perhatianku dicuri oleh sebuah kejadian mengharukan. Saat itu pagi hari dan matahari bersinar begitu teriknya. Seorang ibu dengan berjalan kaki datang membawa kantongan yang berisi makanan dan minuman. Ternyata ia datang menjenguk anaknya yang dirawat di rumah sakit tersebut. Anaknya yang daritadi berkeliaran tanpa tujuan lalu menuju ke ibunya begitu ia dipanggil. Ibunya lalu mengajaknya bersembunyi di belakang sebuah mobil yang diparkir agar tidak dilihat oleh pasien lain begitu ia memberikan makanan kepada anaknya. Seperti itulah di rumah sakit jiwa, pasien-pasien akan berkerumun jika melihat ada makanan yang dibagi. Saat anaknya makan, ibu tersebut tersenyum bahagia melihat anaknya yang makan dengan lahap, padahal keringat membasahi wajahnya yang terlihat kecapaian akibat berjalan di bawah terik matahari. Melihat pandangannya, tampak tatapan seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya walaupun anaknya tersebut tidak seperti orang kebanyakan. Mataku pastilah berkaca-kaca melihat pemandangan yang mengharukan tersebut. Dari kejadian ini, saya belajar bagaimana tentang kecintaan orang tua kepada anaknya. Mereka tidak peduli meski harus berkorban demi kebahagiaan anak mereka.
Sekeliling kita tentunya masih ada orang-orang dengan kebaikan yang bisa menjadi inspirasi kita. Hanya saja bagaimana kita membuka mata hati kita untuk melihat dengan jelas setiap makna dari apa yang terjadi. Mengenai siapa yang menginspirasi dibuatnya tulisan ini, tidaklah perlu kusebutkan namanya di sini.. Terima kasih! =)
Baca Selengkapnya..
Subscribe to:
Posts (Atom)

